PERTEMUAN KE-18. PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI. Dengan Tema "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie"
Kupandangi pohon anggrek yang sudah aku tanam 3 tahun yang lalu namun masih saja kerdil dan belum pernah berbunga. "Maafkan aku pohon anggrek, mungkin karena kesalahanku yang tidak bisa merawatmu sehingga nasibmu seperti ini", tutur hatiku dengan sedih.
Akupun bernyanyi walaupun hatiku pilu". Bila anggrek mulai timbul, teringat kepadamu, teringat masa yang lalu, kau duduk disam- pingku, kubisikan kepadamu, janji yang maha indah, hanya untukmu kasihku, sampai keakhir masa".
"Kenapa Bu, sudah malam masih memandang pohon ", tanya suamiku penasaran.
"Ibu kasihan sama pohon anggrek ini kan dulu Bapak yang bawa dari kampung tetapi sudah 3 tahun kok kecil tidak ada perubahan ", jawabku.
"Oh iya ... itu pohon anggrek dari teman Ibu sekolah dulu, Bapak dikasih pohon itu waktu Ibu minta tolong Bapak mampir kerumahnya,kalau pohon itu tidak berkembang barangkali kurang sinar matahari Bu, coba Ibu pindah ketempat yang lain", ucapnya.
"Ya Pak, besok Ibu pindahkan ketempat lain yang terang", jawabku.
Oh ya ... aku ingat hari ini hari Jum'at pukul 19.00 saatnya menyimak materi dan membuat resume Pelatihan Belajar Menulis Pertemuan ke 18.
Akhirnya akupun masuk ke rumah dan menyiapkan segala sesuatu supaya lebih nyaman dan bersemangat saat menyimak materi dari narasumber hebat.
Narasumber : Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd.
Moderator : Rosminiyati
Jum'at, 25 Februari 2022.
Dalam pertemuan ke-18 ini, hmmm alangkah baiknya sudah menentukan apa yang seharusnya dilakukan. Beliau mengatakan bahwa ada baiknya mulai menentukan judul dan outline (daftar isi)-nya sera terapkan ilmu yang disampaikan Pak D Susanto dengan memaksimalkan penggunaan KBBI dan PUEBI.
Jika naskah buku sudah siap, kita harus segera menentukan penerbit untuk menerbitkan buku kita agar pengaturan naskah kita sesuai dengan ketentuan penerbit yang kita pilih terkait bentuk huruf, spasi, margin, lay out, dll.
Kenalan dulu yuukk dengan sosok beliau. Beliau adalah sosok guru blogger millennial nan ganteng ini lahir di Jakarta, 30 Juni 1992, tinggal di Bekasi, dan berprofesi sebagai guru SDN Sumur Batu 01 Pagi, Jakarta sejak tahun 2015-sekarang. Berbagai capaian telah diraih beliau terkait blog dan tulisan.
Beliau sudah menerbitkan Buku Solo diantaranya
- Blog Untuk Guru Era 4.0 (Januari 2020)
- Aksi Literasi Guru Masa Kini (Mei 2020)
Dan Buku Antalogi diantaranya:
- Senandung Rasa - Antologi Puisi (April 2020)
- Bersajak di Kala Pandemi - Antologi Puisi (Mei 2020)
- Rona Rasa #dirumahaja - Antologi True Story (Juni 2020)
Dahulu pelatihan belajar menulis ini belum menghadirkan narasumber yang membahas tentang teknis menerbitkan buku di penerbit Indie. Sehingga peserta pelatihan menulis harus mencari sendiri penerbit. Menurut Beliau, kebanyakan peserta masih abu-abu mengenai penerbitan buku dan beranggapan mencetak buku merupakan hal yang mahal. Sedangkan salah satu syarat lulus dalam pelatihan ialah menerbitkan buku solo.
Dalam pertemuan ke-18 ini, Beliau akan membahas "Menerbitkan Buku Semakin Mudah di Penerbit Indie"
Mengapa menerbitkan buku dikatakan semakin mudah? Karena sekarang terdapat penerbit indie yang melayani penerbitan buku tanpa seleksi.
Dahulu bahkan ketika penerbit indie belum eksis seperti sekarang, kita hanya tahu bahwa penerbit buku yang ada itu hanya penerbit mayor seperti Gramedia, Erlangga, Grasindo, Elex media, Andi, dll.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan penerbit indie, antar lain:
a. Biaya penerbitan
b. Failitas penerbitan
c. Batas maksimal jumlah halaman
d. Ketentuan dan biaya cetak ulang
e. Apakah dapat Master PDF
f. Lama penerbitan
g. Jumlah buku yang didapat penulis
Bagi kita sebagai orang awan, hal tersebut harus diperhatikan. Jangan asal menunjuk saja tanpa memikirkan beberapa faktor di atas. Karena yang dirugikan diri kita sendiri.
Jangan termakan rayuan dan buaian atau iming-iming semata. Terkadang ada penerbit yang bilangnya "gratis". Tetapi kita tidak tahu ketentuan yang belum terungkap. Misalnya ternyata kita tidak dapat cetakkan bukunya, dapat master PDF saja. Kita mesti cari percetakkan sendiri atau misalnya gratis tetapi harus cetak minimal 10 eksemplar.
Bahkan Beliau memberikan opsi kepada para peserta mengenai perbedaan menerbitkan buku disetiap penerbit, seperti:
Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa Penerbit Depok cocok untuk bapak/ibu yang memang hanya sekedar menerbitkan buku saja, dan tidak berencana cetak ulang. Biaya penerbitannya lebih terjangkau. Biaya penerbitan yang terbilang murah. Penerbit Malang cocok untuk bapak/ibu yang berencana menjual bukunya, karena jumlah buku yang diberikan lebih banyak.
Dalam menerbitkan buku, diharapkan Bapak/Ibu benar-benar sudah teliti dan tidak ada yang tertinggal. Menghindari miss communication antara penulis dengan penerbit. Supaya memudahkan juga bagi penerbit dalam mencetaknya. Penerbit indie menerima semua jenis buku yang akan diterbitkan.
Mengapa penerbit indie bukan di penerbit mayor saja? Karena memang idealnya adalah menerbitkan di penerbit mayor. Namun menerbitkan di penerbit indie bisa sebagai batu loncatan untuk kemudian mencoba di penerbit mayor. Kalau langsung ke penerbit mayor, perlu perjuangan dan proses bertahun-tahun.
"Apapun yang kita lakukan mulailah dari hal kecil baru ke hal besar. Jangan menganggap hal kecil itu remeh. Contohnya seperti penerbit indie. Di era sekarang eksistensi penerbit indie bisa dibilang cukup eksis di kalangan para penulis yang ingin berkarya dengan menerbitkan buku solo. Jadi berlatihlah dan berjuanglah sampai kita mendapatkan apa yang kita inginkan"
"Ini Bu, anggreknya sudah berbunga", ucap suamiku sambil tersenyum , sementara tangan kanannya memegang setangkai bunga.
"lho ... lho, bunga darimana Pak, tumben Bapak ngasih bunga", jawabku sambil tertawa.
"Dari cucu kita katanya buat nenek, tadi Bela ngambil dari bunga bekas dekorasi orang hajatan depan rumahnya", jawabnya.
"Ha ha ha ada-ada saja ya si Bela, silakan duduk Pak, resumre sudah selesai aku mau ceritakan ke Bapak ", ucapku sambil menjelaskan dengan penuh tertawa karena diselingi bercanda ria.
Ciciieet nulis dan nyimak materi selalu berdua. Aku iri...
BalasHapusOke resume yg super bunda. Yuk persiapan buku solo
Alhamdulillah, karena suami sudah purnawirawan,terima sudah berkenan memotivasi saya Bu Ketua yang baik hati
HapusMaaf salah nulis Ibu sekjen he he he
HapusMari menyusul Pak Brian tuk segera punya buku solo.
BalasHapusTerima kasih motivasinya Bu Rina yang baik hati
HapusSalut dengan semangat bunda, kereen, segera bungkus resumenya menjadi buku solo
BalasHapusTerima kasih ibu ketua yang cantik dan baik hati
Hapusmantap bunda, sesuatu resume nya
BalasHapusTerima kasih Bunda Sri motivasinya kepada saya dan teman semuanya
HapusKereeen... Adem banget bacanyaaππππ
BalasHapusTerima kasih Bunda Rini yang cantik dan baik hati
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSo sweet bunda Mar....
BalasHapusTerima kasih Bunda motivasinya
HapusTerus berjalan sampai langkah kaki di depan pintu penerbit
BalasHapusTerima kasih motivasinya Pak Yamin
HapusMbak Maryati selalu komunikatif, plus informatif resumenya
BalasHapusTerima kasih Dinda Menik yang cantik dan baik hati
HapusMasyaallah kalau jadi buku solo, bakalan senyum2 sendiri nih bu para pembaca nya.. Keren buu
BalasHapusTerima kasih Bunda Yandri
HapusLuar biasa jika dijadikan buku solo yg membacanya pastimerasa terhibur dengan dialog awal dan akhirnya
BalasHapusTerima kasih motivasinya ,semoga menjadi ladang amal
HapusSukses selalu Bu Maryati yang baik, semoga sukses juga dengan bukunya.
BalasHapusPerkenalkan, nama saya Ilalang, saya pernah ikut juga pelajaran menulis Omjay, beliau memang luar biasa.
Kalau tidak keberatan, bantu saya ramaikan blog Jagoan Banten. Klik yah bapak ibu guru yang baik :). Mari berpatner dengan blog saya. Terima kasih
Terima kasih atas semuanya,semoga sukses selalu Pak / Bu Ilalang yang baik hati
HapusKeren, keren, semangat terus sahabatquhh sajikan resume yg sll Ok ✊ππͺππ
BalasHapusTerima kasih Bu Reni yang cantik dan baik hati
Hapus