"Tidurlah Intan, tiduran buaian
Bunda, Hari sudah malam, picingkanlah mata" Aku bernyanyi lirih sambil
menimang cucuku yang baru datang dari
Bandar Lampung. Sementara mataku menatap layar laptop dan jari-jemariku mulai mengukir aksara.
"Sepertinya ibu sedang sibuk. Biar Qiyas, aku saja yang gendong
Bu",ucap anakku (Ibunya Qiyas)
Sesaat kemudian aku konsentrasi menyimak
narasumber dan bersiap menulis resume.
Ketika menoleh ke belakang Aku dibuat kaget
"Lho Bapak ada di sini?" tanyaku sambil menyembulkan senyum.
"Bapak kan juga mau mendengarkan resume Pelatihan Belajar Menulis Pertemuan ke-2 yang Ibu ikuti" jawab Bapak.
"Pertemuan kali ini ternyata pernah bersama dengan tim Omjay loh pak. beliau bertemu pada mulanya melalui daring di kompasiana tahun 2009. saat beliau baru mengenal internet dan pertemuan luring mereka di tahun 2013 saat mengikuti Teachers Writing Camp 3 di UNJ" jelasku panjang lebar.
Narasumber : Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd
Moderator : Helwiyah
Pertemuan ke-2, di hari Selasa 19 Januari 2022.
"Dengan latar belakang beliau yang mengagumkan pak. Beliau merupakan seorang penulis, editor bahkan motivator pak. Beliau lulusan S1 di FKIP Bahasa Inggris UNS, lalu S2 di UMS. Beliau juga seorang Guru pegiat literasi nusantara lohh Pak. Bahkan beliau menulis banyak sekali buku. Walaupun kesibukannya sebagai pengurus PGRI Surakarta Jawa Tengah, Beliau tetap menyisihkan waktu untuk melakukan hobinya pak." jelasku kembali.
"Coba Ibu jelasin ke Bapak dongg, materi hari ini apa aja. Bapak penasaran nih. Siapa tahu kan Bapak bisa kaya Beliau." ucapnya dengan nada bercanda.
"Nih Pak, malam ini itu masih berkesinambungan dengan malam kemarin. Dimulai dari kenapa sih banyak orang yang enggan menulis? Sebetulnya bukan enggan Pak, tetapi karena adanya kendala dan hambatan. Seperti kita sudah mendoktrin diri kita, bahwa kita tidak bakat menulis, tidak memiliki waktu (sibuk), idenya sebatas hanya itu-itu saja, enggan atau takut di komentari dan mungkin dari diri sendiri itu memang tidak suka menulis Pak" kataku menjelaskan.
"Nahh ada baiknya sebelum menulis itu, kita harus memiliki persiapan Pak. Di awali dengan apa nih kira-kira ide/ gagasannya. Biasanya kan ide itu muncul dari mana saja Pak, bahkan kita bengong saja pun tergambar ide, atau memikirkan sesuatu kan Pak. Gampangnya kita pilih apa yang disukai dan kita pahami untuk mengembangkan ide yang disalurkan menjadi tulisan Pak. Terus tahap selanjutnya itu Pak, kita tentuin nih tujuan kita menulis, terus genrenya entah horor, fantasi, fiksi atau apapun itu. Terus sasaran pembaca kita siapa Pak? apakah umum, anak-anak, atau pelajar. Kalau sudah, kita tentuin deh judulnya yang menarik dan sesuai dengan isi tulisan kita Pak. Lalu kita buat kerangka tulisan, apa ya Pak. hmm kalau kata lainnya itu garis besar, intinya. supaya lebih teratur Pak. Nah yang wajib nih Pak, jangan cuma nulis saja, tapi kita juga harus banyak membaca buku supaya perbendaharaan kata kita banyak, terus biasanya sesudah baca itu, sering muncul ide yang tidak terduga Pak". jelasku panjang lebar.
"Pelan-pelan Bu jelasinnya, biar Bapak paham. Ternyata menulis itu, tidak bisa sembarangan ya Bu, ada beberapa tahapan supaya tulisan kita bagus" ucap Suamiku sambil menganggukkan kepala.
"Ada yang nanya nih Pak, mengapa menulis harus dijadikan passion? Jadi passion itu kaya semacam gairah pak. Jadi dari diri kita itu harus menumbuhkan mindset bahwa kita seorang guru harus banyak membaca dan menulis. Jadi kita mengubah mindset, bahwa menulis merupakan sebuah kebutuhan dan seperti panggilan yang harus dilaksanakan supaya tidak mengganjal". Ucapku menjelaskan penuh semangat.
"Cara mengenali tulisan kita masuk genre apa, itu mudah sekali. Dengan melihat apa yang kita sukai dan kita kuasai. Jadi menulis lebih tepatnya seperti menyampaikan pesan kepada pembaca. Nah dari tulisan kan terlihat, latar belakang tulisan kita masuk ke genre yang mana. Setiap tulisan itu sudah pasti memiliki ciri khas yang berbeda-beda tergantung dari sudut pandang si penulis itu sendiri Pak. Lalu bagaimana cara mendatangkan ide? Jawabnnya sebetulnya gampang Pak, yaitu dengan cara lebih peka terhadap sekitar Pak. Namun kan kebanyakan dari kita menganggap hal itu sebagai angin lalu saja". Kata ku menjelakan apa yang dipertanyakan pada diskusi malam ini.
"Tapi Bu, kalau kita mau tulisan kita laku atau terjual gimana bu? pasti belum ada yang nanya kan?" Tanya Suamiku dengan percaya diri.
Aku hanya tertawa geli, seraya berkata "Bapak telat, sudah ada yang menanyakan itu, jadi Ibu bisa jawab nih pertanyaan Bapak. Cara supaya buku kita laku atau terjual istilahnya itu 'marketable' Pak. Jadi kita itu harus melihat apa yang dibutuhkan pembaca saat ini dan apa yang sedang trending saat ini. Diusahakan juga kita bisa melihat studi pasar/ keinginan pembaca".
"Sudah Bu? pelajaran apa yang hari ini Ibu dapatkan secara garis besarnya deh Bu?" tanya suamiku.
"hmmm... Menulis buku adalah pekerjaan mulia. jadikan menulis sebagai passion. jangan pernah takut tulisan jelek atau tidak ada yang mau membaca. Tetaplah berada di komunitas Literasi. Ikuti nubar (Nulis Bareng) di buku Antalogi sebagai jembatan menjadi penulis buku solo". Ucapku sambil menutup Laptop dan mengakhiri pelajaran hari ini.
Keren bunda resume dibuat sepet cerpen, luar biasa menginspirasi.
BalasHapusMonggo bun mampir ke blog saya
https://mutmainahqiandra.blogspot.com/2022/01/menjadikan-penulis-sebagai-passion.html?m=1
Terima kasih Bunda, saya tadi sudah mampir
HapusTulisannya akrab di hati pembaca. Selamat Bunda hebat. Lanjutkan.
BalasHapusTerima kasih Bunda Rina motivasinya ,semoga menjadi ladang amal
HapusTulisan penuh romantisme,
BalasHapusSang penulisnya seorang Mbah yang cerdas ini.
Semngat guru. Salam takjim
Semoga berknan mampir ke blog saya
Ovi. Arofiah Afifi untuk memberi pencerahan kepada penial π
He he he Bu Ovi bisa saja,terima kasih motivasinya, siap mampir bun ,sebentar lagi saya mau menyulam bulu mata
HapusWah keren banget bisa dibuat dalam bentuk fiksi
BalasHapusMasya Allah dari kalimat pertama saja pikiran saya sudah melayang2 diudara,
BalasHapusSemangat bunda saya yakin bunda pasti dengan cepat bisa buka karya buku
Isalloh bisa Bu ,ayo semangat terus π
BalasHapusTerima kasih motivasinya Pak Rusmana ,saya jadi semangat 45
HapusJempol bangeet.. ππππ
BalasHapusTerima kasih Bu Rini yang cantik sudah memotivasi saya .
BalasHapusAnda seorang Inspirator, selanjutnya Penulis Hebat. Menarik sekali tulisan nya. Sy menyelami, seakan-akan berada dlm cerita tsb ππ
BalasHapusSalam Literasi
Keren bunda....bikin penasaran pembacanyaππsemangat!!
BalasHapusSemoga berkenan mampir ke blogger sayaπππ
sangat inspiratif bun
BalasHapusBunda keren banget resumenya, saya langsung terpesona...bahasanya cair, enak dibaca sampe habis.
BalasHapusMaaf Bu baru mampir blog ibu luar biasa
BalasHapusππππ
BalasHapusTernyata bunda Maryati seorang cerpenis, mohon bimbingannya ya Bu, agar saya juga bisa menulis seindah tulisan bundaπ
BalasHapus"Menulis harus dengan penuh Kesabaran ". Sebagai penulis pemula tekunlah dalam proses menulis . Daripada berfokus pada kesempurnaan ataupun idealisme, hendaknya kita mencoba untuk terus menulis semampunya disertai dengan konsistensi Maka kita akan memetik hasilnya
BalasHapuscakep dan mantap.